Sabtu, 28 April 2018

Sejarah Dayah Tanoh Abe

Keberadaan perpustakaan Tanoh Abee tak terlepas dari sejarah pendirian sebuah pesantren (dayah) yang dibangun oleh ulama asal negeri Baghdad, Fairus Al-Bagdadi, yang datang ke Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M).***

Dari literatur yang ada, Dayah Tanoh Abee merupakan salah satu institusi penting di Asia Tenggara dan menjadi model intelektual dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. 

Perpustakaan Tanoh Abee berada di Desa Tanoh Abee, Kecamatan Seulimuem, Kabapaten Aceh Besar. Menurut hasil penelitian Arkeologi Islam Indonesia, perpustakaan tersebut merupakan satu-satunya perpustakaan Islam tertua di Nusantara, bahkan termasuk perpustakaan Islam yang paling tua di Asia Tenggara.

Keberadaan perpustakaan Tanoh Abee ini tak terlepas dari sejarah pendirian sebuah pesantren yang dibangun oleh ulama asal Baghdad, Irak bernama Fairus Al-Baghdadi yang datang ke Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Fairus hijrah ke Aceh waktu itu bersama tujuh saudaranya. Empat orang, termasuk Fairus menetap di wilayah Aceh Besar. Tiga saudara lainnya menyebar ke Pidie dan Aceh Utara.

Diperkirakan bahwa Fairus Al-Baghdadi inilah sebagai ulama yang mula-mula membangun pesantren tersebut—yang kemudian dikenal dengan nama Dayah Tanoh Aceh—yang merupakan cikal bakal dari perpustakaan kuno Tanoh Abee saat ini. Maklum, di dalam pesantren, tersebut tersimpan ribuan kitab tulisan tangan karya para ulama Aceh terdahulu.

Perpustakaan ini terletak di kaki gunung Seulawah yang berjarak sekitar 42 kilometer arah timur Kota Banda Aceh. Perpustakaan ini dikelola secara turun temurun sejak 600 tahun yang lalu. Mulai dari pendirinya Syech Fairus Al-Baghdadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, lalu diteruskan seorang anaknya bernama Syech Nayan. Kemudian, Syech Nayan mewariskan perpustakaan itu sekaligus pesantrennya kepada Syech Abdul Hafidh.

Terkait: Salah Satu Tertua di Asia Tenggara

Selanjutnya, beralih ke tangan Syech Abdurrahim, yang menurut catatan sejarah menyatakan bahwa Syech Abdurrahim termasuk pewaris pesantren Tanoh Abee yang sangat banyak mengumpulkan naskah-naskah kuno untuk menjadi koleksi perpustakaan.

Dari Syech Abdurrahim, perpustakaan dan pesantren ini diwariskan oleh Syech Muhammad Saleh. Lalu, diteruskan oleh anaknya yang bernama Syech Abdul Wahab, kemudian ke Syech Muhammad Sa’id. Dari Muhammad Sa’id, pesantren ini diurus oleh Teungku Muhammad Ali, hingga kemudian jatuh kepada pewaris terakhir sekarang ini, yaitu Al-Fairusi, sebagai pewaris urutan kesembilan. 

Dari sembilan orang keturunan yang mewariskan perpustakaan ini, yang menonjol kemajuannya adalah pada masa kepemimpinan Syech Abdul Wahab (pewaris keenam). Syech Abdul Wahab kemudian dikenal sebagai ulama besar yang berpengaruh di Aceh dengan sebutan Teungku Chik Tanoh Abee.

Ketika pesantren Tanoh Abee berada di bawah kepemimpinannya, hampir seluruh perhatian Syech Abdul Wahab dicurahkan untuk memajukan perpustakaan. Ia sangat berminat agar perpustakaan pesantren Tanoh Abee menjadi sebuah perpustakaan Islam terbesar di Nusantara, bahkan dapat menjadi perpustakaan Islam terbesar di Asia Tenggara.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Syech Abdul Wahab menyalin ribuan kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawi dari berbagai ilmu pengetahuan untuk menjadi perbendaharaan perpustakaan Tanoh Abee.

Sayangnya, ketika ulama Nuruddin Ar-Raniry memusnahkan kitab-kitab karya ulama sufi terbesar di Aceh, yaitu Syech Hamzah Fansuri, karena ajarannya dianggap “sesat” oleh Nuruddin Ar-Raniry, orang memperkirakan bahwa semua kitab karangan Hamzah Fansuri telah habis dibakar saat itu. Ternyata sebahagian besar kitab-kitab karya Hamzah Fansuri yang ditulis tangan masih sempat diselamatkan di perpustakaan Tanoh Abee hingga saat ini.

Sejumlah naskah kuno, kitab hasil karangan para ulama Aceh terdahulu, hingga akhir abad ke-18 diperkirakan berjumlah sekitar 10.000 naskah (tulis tangan) dan tersimpan rapi di perpustakaan ini. Namun, seiring perjalanan waktu, naskah-naskah tersebut banyak yang lapuk dan rusak akibat tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya. Selain itu, naskah-naskah tersebut juga banyak yang dimusnahkan dan dicuri oleh Belanda ketika mereka masuk ke Tanoh Abee waktu itu.

Almarhum Tgk. M. Dahlan Al Fairusi pernah menjelaskan, jumlah kitab yang masih tersisa di perpustakaan ini ada sekitar 3.000 naskah. Sebagian disimpan di pesantren dan sebagian lagi tersimpan di rumah Tgk. Dahlan agar tidak hilang.
***
Tgk. H Muhammad Dahlan Al-Fairusi Al-Bagdadi atau akrab disapa Abu Tanoh Abee sempat mengomentari buku Khazanah Naskah karangan Henri-Chambert Loir & Oman Fathurahman yang juga mencakup pencatatan atas naskah-naskah koleksi Dayah Tanoh Abee (January 2005). 
Begitupun, setelah beberapa tahun berjuang keras melawan penyakit jantung yang dideritanya, Sabtu, 18 November 2006, sekira pukul 13.45 WIB, ulama kharismatik berusia 63 tahun ini mengembuskan napas terakhir. 

Abu Tanoh Abee telah meninggalkan jasa yang luar biasa besar. Selama puluhan tahun, ia menjaga dan merawat tidak kurang dari 3.500 teks-teks kuno keagamaan dalam bentuk manuskrip. Jumlah naskah koleksi Dayah Tanoh Abee ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara untuk kategori koleksi lembaga tradisional.

Berkat jasa dan ketekunannya dalam mengumpulkan naskah-naskah tadi, terutama yang diperoleh dari keluarganya, dunia keilmuan masih bisa menyandarkan informasinya pada sumber-sumber lokal yang genuine (asli), khususnya berkaitan dengan sejarah perkembangan sosial intelektual keagamaan di Aceh sejak abad ke-16. Hingga kini, naskah-naskah tersebut tersimpan di Dayah Tanoh Abee, meski dengan standar perawatan yang belum maksimal.

Keberadaan naskah-naskah Tanoh Abee ini menjadi semakin terasa penting terutama setelah hancur dan musnahnya beberapa lembaga penyimpan dokumen bersejarah, seperti Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional akibat gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 lalu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar